Reality Juggler

Jakarta, setahun sekali.

Setiap tahun, dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun terakhir, saya dan seorang teman SMA memiliki suatu kebiasaan untuk mengarungi Jakarta. Tujuannya sederhana, keliling Jakarta, berkunjung ke museum, mendatangi tempat makan khas Jakarta serta menaiki transportasi umum di Jakarta. Iya… saya dan teman tidak terlalu menggunakan transportasi umum (mungkin lebih berat di saya :D). Berhubung teman saya sudah berkeluarga dan saya juga pekerja kantoran, maka waktu yang ditentukan untuk petualangan kami adalah di hari libur yang bukan akhir minggu. Biasanya hari tersebut terletak dipenghujung tahun. Entah kenapa saya selalu bekerja di kantor yang memiliki liburan akhir tahun dan teman saya adalah seorang freelancer. Selain itu, menghadiri kemacetan dan hiruk pikik dari kota Jakarta juga menjadi salah satu alasan kami memilih waktu tersebut.

Kali ini ada sedikit twist di petualagan kami, yaitu: coffee shop atau warung kopi. Teman saya ini tidak begitu menyukai kopi, tetapi karena memang dasarnya hobi keliling (baca: jalan – jalan) dan foto, dia menyetujui saja permintaan saya. Maka petualangan kami tahun ini adalah mengunjungi Museum Nasional, Museum Keramik dan Seni Rupa serta warung kopi yang terletak di bilangan Jakarta Pusat. Karena akan berjalan penuh, Nine West flat sepertinya akan saya siksa seharian. Untungnya tidak harus lari mengejar bis atau berebutan untuk masuk ke dalam kereta, karena kebanyakan penduduk Jakarta sedang berlibur akhir tahun.

Seperti biasa, petualangan kami dimulai dari sebuah terminal busway jalur 1 (satu) di bilangan Jakarta Selatan untuk menuju tujuan pertama, Museum Nasional. Museum Nasional atau Museum Gajah terletak di jantung kota Jakarta. Salah satu museum yang dipugar habis – habisan oleh pemerintah Indonesia. Koleksi dari peninggalan – peninggalan pra-sejarah, arkeologi, ethnografi Indonesia serta patung – patung Hindu dan Budha. Ada satu hal yang saya pelajari dari kunjungan kali ini, tanda di dahi Sang Budha menunjukkan kearifan. Saya yang mengagumi arkeologi dan sejarah dan teman yang amat menyukai patung – patung menikmati suguhan museum ini. Selalu. Dan selalu. Tidak pernah bosan.

ish_pr-1484037722790

Saya dan teman kemudian melanjutkan petualangan ke daerah Kota Tua di bilangan Jakarta Pusat karena Museum Keramik terletak didalamnya. Biasanya teman saya selalu membawa kamera HDR, tetapi kali ini cukup dengan smart phone saja. Saya dan teman bukanlah pencinta seni yang luar biasa, tetap kami mengagumi koleksi – koleksi seni yang terpampang didalam museum ini.

Adalah Antonio Blanco, seorang pelukis keturunan Spanyol dan Amerika yang datang ke Bali dan jatuh cinta dengan Ni Ronji. Seorang perempuan penari dari Bali. Cintanya kepada Ni Ronji menjadikannya sumber inspirasi tanpa akhir Antonio. Baginya, keindahan perempuan adalah abadi. Oleh karena itu sebagian besar lukisannya adalah mengenai perempuan. Entah kenapa saat pertama kali melihat lukisan Antonio Blanco bertahun – tahun lalu, mata saya tidak pernah bisa lepas untuk beberapa saat. Indah. Dan salah satu lukisannya terpampang cantik di Museum Seni dan Keramik.

img-20161228-wa0080

Setelah selesai dengan Museum Keramik, kami lanjutkan dengan makan siang sekaligus menikmati kopi dari warung kopi yang telah kami sepakati, dengan menggunakan kereta api.

Saya dan teman memiliki beberapa persamaan yang membuat kami menjadi dekat. Salah duanya adalah jalan – jalan dan menulis. Perbedaannya, teman saya tetap di jalur menulis sebagai mata pencaharian. Sementara saya, sama sekali tidak mencari nafkah dari menulis walaupun sangat ingin sekali. Satu lagi yang menjadikan kami dekat adalah teman saya suka mengambil foto dan saya suka difoto.

Karena kegiatan ini dilakukan hanya setahun sekali dan kami amat jarang sekali bertemu (iya… kami tinggal di kota yang sama), maka sepanjang perjalanan tidak pernah sepi dari percakapan. Mulai dari cerita dari beberapa kehidupan sehari – hari yang kami belum informasikan, kebanyakan museum di Jakarta yang tidak terawat dengan baik (ini merupakan keluhan kami setiap tahun, walaupun ada beberapa museum yang sudah membaik), penduduk Jakarta yang masih belum menghargai museum,  sampai dengan politik yang tengah terjadi di Indonesia saat ini. Ah… mungkin persamaan kami yang lain lagi adalah pandangan politik.

Warung kopi Giyanti yang merupakan tujuan terakhir kami merupakan sebuah tempat yang unik dan nyaman untuk duduk dan berbincang dengan teman, selain juga memiliki kopi yang nikmat. Seperti biasa, kami melahirkan sebuah ide serta membicarakan satu ide yang telah tercipta sebelumnya agar dapat terlaksana. Entah apakah kami akan melaksanakannya tahun ini, tetapi perjalanan mengarungi Jakarta setahun sekali dengan teman ini selalu saya nanti.

2016-12-28-11-52-05

photo credit: @ish_pr (instagram)

Advertisements

3 thoughts on “Jakarta, setahun sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s