Reality Juggler

tuhan oh tuhan..

Ada sesuatu mengenai kata ‘Tuhan’. Ada beberapa hal yang amat sensitif untuk: dibicarakan, disebutkan, ataupun didiskusikan secara gamblang dari kata tersebut. Secara harfiah, merupakan sesuatu yang disembah, dipuja, dan diyakini oleh manusia sebagai yang Mahakuasa. Tetapi bagi sebagian kecil masyarakat Indonesia, memiliki nama Tuhan adalah sesuatu yang lumrah.

Sempilan berita menarik sebelum saya melanjutkan kegiatan hari ini (baca: melangkah ke gedung – gedung lagi untuk meeting), sembari mengistirahatkan kaki yang sedari pagi tidak pernah mengeluh. Untung semua kegiatan saya terpusat hari ini dan trotoar serta jalan didaerah ini sangat shoe friendly.

Adalah seorang pria di daerah Banyuwangi, Jawa Timur, yang menjadi soc med phenomenon karena memiliki nama Tuhan. Iya.. hanya itu. Tanpa embel – embel yang lain. Ada yang menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang lucu, ada yang tidak peduli, dan ada juga yang menghujat dengan alasan tidak etis. MUI menyarankan agar ‘Tuhan’ mengganti namanya atau setidaknya menambahkan setidaknya 1 kata didepan namanya. Karena memiliki nama ‘Tuhan’ berarti mensejajarkan diri dengan Sang Khalik. Ada lagi Lembaga Dakwah Islam Indonesia yang menyuruh ‘Tuhan’ untuk mengganti namanya. Dan mengganti nama tidak mahal menurut LDII.

Dalam kebudayaan Jawa, nama memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan seseorang. Kalau nama tersebut tidak cocok dengan kepribadian ataupun kehidupan dari si pemegang identitas, maka disarankan untuk diganti. Ada seorang teman saya yang memiliki nama Mega. Tetapi karena memiliki perawakan kecil maka di usianya yang ke-17, dia mengganti namanya menjadi Maya. Alasannya, karena Mega meiliki arti besar. Tidak sesuai dengan perawakannya. Kemudian saya bertanya, kalau mimpimu yang besar? Harusnya tidak perlu ganti nama. Dan lagipula, bukannya lebih baik memiliki nama yang berarti besar karena bisa memicu kepada sesuatu yang besar. Dia terdiam. Setelah itu, saya agak setuju mengenai keputusan keluarga untuk mengganti namanya.

Empunya nama Tuhan ini berasal dari Suku Using di Jawa Timur. Dimana nama dan pelafalan adalah sesuatu yang berbeda. ‘Tuhan’ sehari – harinya tidak dipanggil dengan pelafalan ‘T-U’ tetapi ‘T-O’. Kalau ditulis dalam Bahasa Indonesia yang sesuai dengan pelafalan, maka seharusnya menjadi Tohan. Tidak ada arti khusus dalam KBBI. Tetapi bagi beberapa kumpulan atau grup tertentu dan orang – orang tertentu, hal tersebut bukan suatu alasan. Mereka agak lupa sebenarnya kalau Indonesia juga kaya akan budaya dan kebudayaan. Dan Pak Tuhan atau Tohan (kalau ditulis dengan sesuai pelafalan) tidak pernah merasa menjadi Tuhan ataupun menyamakan dirinya dengan Tuhan.

Apapun alasannya, nama adalah sebuah pemberian menurut saya. Sebuah doa dari orang tua kepada anaknya. Setelah diberikan, nama merupakan hak dari si empunya nama. Adalah keputusannya mengenai penggantian nama dan yang akan dipilih kembali nantinya. TAFKAP (The Artist Formerly Known As Prince) atau Prince sempat berganti nama beberapa kali sampai akhirnya menjadi TAFKAP. Alasannya bukan karena budaya, tetapi karena ia hanya ingin berbeda dari yang lain. Memang dia tidak memilih GOD ataupun Tuhan untuk menjadi namanya. Tetapi cukup untuk membuat satu dunia tercengang dengan keputusannya. Dan dunia, masih tetap berputar.

But hey, what is in a name. A rose by any other name would smell as sweet.

Advertisements

One thought on “tuhan oh tuhan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s