Uncategorized

s o e k a r n o

Jurnal 22

Bangga sekali saya kepada produksi film Indonesia. Semakin berani dan layak untuk dijadikan tontonan sekaligus ilmu. Beberapa minggu lalu, saya melihat sebuah iklan mengenai film Indonesia terbaru yaitu ‘Soekarno’. Indonesian Founding Father sekaligus pria Indonesia faforit saya. Mata saya terpana ke layar lebar tersebut…rasanya saya tidak berkedip selama iklan itu berlangsung. Tanpa pikir panjang, langsung saya catat pemutaran perdana film tersebut.

Saat pemutaran perdana film tersebut, antara terlalu bersemangat, penasaran, sekaligus takut menghantui saya. Terlalu bersemangat, tentu saja. Bung Karno, pria Indonesia yang paling saya kagumi dijadikan ke dalam sebuah layar lebar. Saya sangat penasaran mengenai isi cerita film tersebut. Kalau yang saya baca dari beberapa artikel mengenai film ini, isinya hanya fokus kedalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Berarti dalam era tersebut, kehidupan pribadi beliau juga harus tergambar kedalam layar tersebut. Berikut juga pola pikir serta bagaimana keputusannya mengenai rakyat banyak dan Indonesia. Hal tersebut juga yang membuat saya takut… takut film tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Saya pun membuat janji, kalau tidak sesuai dengan ekspektasi atau harapan saya, maka walk out jawabannya.

Tetapi sepertinya permohonan maaf harus saya sampaikan kepada seluruh tim kreatif dari film tersebut, karena melebihi harapan saya. I love the movie!! Dari mulai alur cerita, setting, editing, para aktor, dan yang paling penting adalah kenyataan yang tidak ditutupi atau dibuat menarik dan bagus. Karena pada era penting dimana Indonesia mulai bergerak menuju kemerdekaan, dua wanita dalam kehidupan pribadinya memiliki peran amat penting saat itu. Serta keputusan Bung Karno serta Bung Hatta untuk mengikuti permainan Jepang saat itu.

Dan yang paling membuat saya merinding adalah aktor yang memerankan Bung Karno. Saya tidak pernah mengenal beliau secara pribadi selain dari buku, artikel serta suara yang berkumandan pada saat membacakan teks proklamasi di Monas. Ario Bayu, sang aktor, menurut saya memerankannya dengan sangat pas sekali. Semangat nasionalisme yang membara, pancaran semangat yang terlihat dari pidato, dan yang menurut saya sangat Bung Karno adalah women affection attitude dari beliau. Tidak hanya Ario Bayu, tetapi juga aktor – aktor lainnya. Saya memberikan standing ovation untuk pekerjaan mereka yang luar biasa.

Tetapi sayangnya film ini mengundang terlalu banyak kontroversi, terutama dari keluarga beliau. Salah satunya adalah Ario Bayu tidak terlalu nasionalis. Karena mereka memiliki calon aktor tersendiri untuk dimajukan. Sutradara film tersebut menyanggah dengan alasan ada satu hal yang tidak dimiliki oleh calon aktor mereka yaitu women affection attitude (menurut saya juga aktor pilihan keluarga Bung Karno sedikit terlalu tua untuk bersanding dengan Bu Inggit). Entah kenapa kurang nasionalis mereka jadikan alasan untuk menuntut, kalau kemampuan berakting yang nantinya akan menjadi penentu. Dan alasan sutradara dianggap menghina Bung Karno… saya semakin bingung.

Bukan rahasia umum kalau pria Indonesia faforit saya adalah seorang womanizer. Menikah sebanyak sembilan kali dan amat sangat menghargai kecantikan wanita. Itu kenyataan yang memang harus kami, orang Indonesia, terima. Tetapi dibalik semua itu, apa yang telah beliau lakukan untuk negara ini amat luar biasa. Kenapa malah meributkan hal yang tidak penting. Beliau membuat pemikiran mengenai Pancasila, walaupun belum terlaksana sempurna tetapi menyatukan Indonesia sebagai negara kesatuan adalah cita – citanya. Tidak akan selesai bicara dalam waktu sekejap jikalau subjeknya adalah mengenai Bung Karno. Sepertinya saya harus kembali kepada pujian saya mengenai film tersebut.

Adegan faforit saya dari film tersebut adalah ketika Bung Hatta bertanya kepada Bung Karno mengenai kemampuan mereka untuk memimpin Indonesia. Dengan lantang beliau menjawab, BISA. Dan dari situ Bung Hatta seperti menaruh kepercayaan kepadanya untuk melangkah maju membacakan teks proklamasi keesokan harinya. Saya merinding bukan main saat menonton adegan tersebut.

Menurut saya semua rakyat Indonesia harus menonton film ini. Karena tidak hanya menceritakan sejarah apa yang terjadi secara gamblang, tetapi juga untuk mengenal Bung Karno. Bahwa seorang Presiden juga hanya manusia biasa, yang menentukan bahwa beliau luar biasa adalah semangat dan nasionalismenya. Karena zaman sudah berbeda, semangat dan nasionalisme tersebut bisa dilakukan dalam bentuk apapun. Selama positif ya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s