Uncategorized

ketika kata ‘mantan’ tidak berarti mantan

Jurnal 5

Kabur dari kantor untuk early lunch bersama mantan atasan yang jadi teman. Perempuan yang usianya hampir 40, tapi masih terlihat awal 30an. Sudah memiliki 2 anak, tapi masih terlihat seperti single. Saya selalu berpaling ke dia untuk meminta beberapa advis atau nasihat. Wong Jowo yang njawani walau tidak terlihat, menurut saya. Saya menyebutnya, Mbak Ayu.

Salah satu yang selalu saya syukuri adalah selalu diberikan pekerjaan serta teman – teman kerja yang luar biasa seru, kreatif, pintar dan loyal. Mbak Ayu juga tidak pernah bosan mendengarkan dan mendorong saya untuk menjadi lebih baik, terutama sebagai perempuan. Mbak ini amat feminis dan juga berpendapat. Tetapi juga mengetahui kalau sebuah pendapat bisa menimbulkan sebuah kontroversi jika dilontarkan diwaktu yang tidak tepat.

You’re the only one who can determine your own happiness. Not others. Itu yang selalu diberikan kepada saya. Kalau kamu tidak bahagia, jangan salahkan orang lain. Tapi kualitas dirimu sendiri yang bisa membuat segala sesuatu yang terjadi pada dirimu menjadi sesuatu yang membahagiakan.

Selain itu Mbak Ay, begitu nickname saya untuknya, juga selalu mengingatkan untuk tidak melupakan sekitar. Walaupun tindakan kecil.

Well, entah percakapan apa yang akan terjadi, tapi yang pasti saya sudah tidak sabar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s