Uncategorized

Yogya Trip

Jurnal 2

Saya baru saja kembali dari bepergian ke Yogyakarta yang mengatas namakan kantor. Kantor saya bergerak dibidang Mining Software untuk perencanaan tambang dan pengaturan database. Walaupun ada kata software atau perangkat lunak, bukan berarti teknikal dikantor melulu seorang IT. Lebih banyak geologis ketimbang IT. Karena, menurut geologis di kantor, lebih baik membekali geologis dengan ilmu IT ketimbang sebaliknya. Agar sense of geology-nya tetap ada.

Anyway… kunjungan saya ke Yogyakarta adalah untuk ‘berjualan’ sekaligus membuat orang ‘aware’ akan Micromine (judul software yang sekaligus kantor ;p). Kantor kebetulan jadi salah satu sponsor untuk  MGEI, sehingga diberikan satu slot untuk presentasi dan langsung dilanjutkan eksibisi di IAGI. Salah satu dari acara tersebut memiliki tema basic vulcanology, eruption and result of mineralogy atau setidaknya itulah bahasanya. Seperti biasanya, kalau ada hal – hal dimana diharuskan berbicara didepan umum, saya pasti akan diceburkan secara langsung atau tidak langsung oleh atasan. Antara seru dan ga seru… senang dan ga senang. Seru dan senangnya karena dapat jatah liburan dimana dibiayai oleh kantor. Ga seru dan ga senangnya, sering banget dadakan soalnya. Hahahaa… tapi over-all pengalamannya menyenangkan.

Kapan lagi saya bisa memperhatikan para geologis dari jarak dekat dalam bekerja. Kemudian field trip ke gunung merapi sambil kursus terbuka dan… yah.. memperhatikan batu. Harusnya saya tidak ikut untuk konferensi yang kedua, tetapi tiba – tiba atasan saya menyuruh untuk tinggal sampai acara launching salah satu software ‘baby’ selesai.

Field trip ke merapi adalah salah satu bagian dari acara tersebut. Di dalam bayangan saya mengenai field trip adalah pergi kemerapi, kemudian melihat sisa – sisa dari erupsinya. Tetapi karena kebetulan perginya dengan geologis, maka ideologi field trip adalah turun ke kawah dan lereng sisa – sisa gunung merapi untuk mendeskripsikan serta menamai bebatuan serta tebing – tebing tersebut. Hhahaaa… tadinya saya dan teman kantor tidak ingin ikut turun kebawah, tetapi kata salah satu panitia, nanti nunggunya akan lama. Dan untuk naik ketempat dimana jeep yang membawa keatas lereng bukan dari tempat yang sama dimana kami semua turun lereng. Haduuuuh… mau tidak mau akhirnya kami ikut serta.

Turunlah saya dan teman kantor ke lereng gunung mengikuti para geologis tersebut. Oh iya.. dalam acara MGEI, karena temanya adalah mengenai vulkanologi, erupsinya serta mineralisasi yang terjadi setelahnya, para geologis tersebut kedatangan salah satu profesor vulkanologi. Namanya Prof. Dr. Jocelyn McPhie http://www.journalogy.net/Author/18449380/jocelyn-mcphie. Seorang perempuan setengah baya dengan perawakan tidak terlihat setengah baya sama sekali. Gaya berpakaiannya pun amat santai. Sewaktu saya presentasi mengenai kantor dihadapan pesertaMGEI, pakaian adalah salah satu perhatian yang amat merepotkan. Tetapi sepertinya bukan hal yang harus diperhatikan untuk Joce, panggilannya, dalam memberikan lektur. Saya juga baru tahu kalau Joce sudah mengeluarkan buku mengenai vulkanologi. Sepertinya bukan buku yang ingin saya baca.. no offense Joce. Tetapi untuk ukuran geologis perempuan, Joce salah satu yang memiliki pribadi yang hangat dan tidak terlalu tertutup.

Anyway, melantur terlalu jauh sepertinya. Perjalanan di lereng gunung merapi pun, memiliki beberapa pemberhentian. Karena dibeberapa tebing, para geologis tersebut akan mendengarkan penjelasan Joce. Ada salah satu geologis yang membuat saya takjub. Di saat peserta melanjutkan perjalanannya untuk melihat bebatuan lain, geologis ini terdiam dengan meja jalan dan pulpennya. Saya dan teman memperhatikan dari jarak dekat, tetapi sepertinya tidak mengganggunya sama sekali. Kami terbengong dan melihat satu sama lain, geoglogis itu pun masih serius berkutat dengan meja jalan dan bebatuan dihadapannya. Hahhaaa… kami pun melanjutkan perjalanan untuk menyusul rombongan. Selama perjalanan, saya dan teman tertawa – tawa dan berfoto. Sementara yang lain sangat serius mendengarkan kuliah.

Akhirnya kami pun harus turun gunung, karena hari sudah semakin sore dan kabut semakin tebal menyelimuti kawasan merapi. Perjalanan dilanjutkan menuju
Candi Prambanan untuk makan malam dan melihat sendratari Ramayana. Tidak sabar saya… terakhir kali ke Prambanan itu kira – kira 1dekade yang lalu. Kami kembali ke hotel, kira – kira jam 10 malam. Para panitia sebenarnya menawari kami untuk ikut field trip keesokan harinya, tetapi kami tolak. Bukan karena pengalaman barusan, lebih karena kami ingin jalan-jalan dulu sebelum akhirnya pulang. 1 hari cukuplah..

Ini bukanlah kali pertama saya mengikuti eksibisi, tetapi pengalaman field trip bersama para geologis yang membuat pengalaman ini menjadi lebih menarik. Setidaknya tidak hanya melihat geologis di kantor, tapi juga dilapangan :p.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s