Uncategorized

menyayangi untuk bersyukur

Jurnal 1.

Saya memulai menulis blog jurnal atas ide seorang sahabat. Alasan sahabat tersebut adalah agar dia bisa lebih up-date tentang kegiatan saya. Maklum, kami tinggal di negara yang terpisah walaupun masih satu benua. Menceritakan mengenai kegiatan ataupun yang terjadi dalam kehidupan bukanlah kebiasaan saya. Mengemasnya dalam suatu cerita, itu yang saya lakukan. Tapi, baiklah…saya pikir tidak ada salahnya menantang diri saya sendiri untuk terbuka.
Akhirnya saya menghargai badan. Satu hal yang membuat saya menjadi seekor keledai adalah mengulangi beberapa hal tertentu yang sama. Kali ini, mengabaikan batas energi badan. Mungkin kalau badan saya bisa berbicara, dia akan memarahi saya habis-habisan dan menyuruh untuk berhenti melakukan apapun itu yang sedang saya lakukan saat itu.

Hari Senin, tepatnya, sebenarnya badan saya sudah memberikan peringatan – peringatan kecil kalau energi batre sudah hampir habis. Tetapi saya tetap melanjutkan rencana untuk pergi menonton dengan seorang teman (teman yang sedang saya dekati, ceritanya nanti ya.. ;).. ). Jadwal filmnya adalah jam 18.30WIB, pas setelah buka puasa. Karena sudah terbiasa untuk mengkonsumsi buah untuk berbuka dan sayur untuk makan malam, bukan vegan tapi ya.., saya tidak memesan makanan seperti yang dilakukan teman tersebut. Dia memaksa sih, untuk memakan makanannya. Tapi saya tetap menolak, bukan apa, takut perut saya menolak dan harus ke toilet ketika sedang menonton.

Sampai saya pulang pun, badan masih belum menunjukkan hal yang aneh-aneh. Tetapi ketika saya terbangun untuk sahur, baru terasa suhu hangat badan ditambah nyeri di kepala sebelah kanan. Oke, minum obat, shalat, dan tidur. Kemudian izin datang siang kekantor. Karena hari ini ada beberapa hal yang harus diselesaikan tuntas. Memang manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan. Ketika terbangun, suhu badan saya semakin tinggi dan rencana untuk datang siang kekantor kandaslah sudah. Rumah sakit adalah haluan berikutnya.

Dokter langganan saya langsung memberikan instruksi untuk memeriksakan darah ke laboratorium. Begitu dibacakan, hasilnya adalah demam berdarah positif dengan trombosit normal. Terpaksa saya bed rest dan cek darah kembali hari Kamis. Pada pemeriksaan darah yang kedua, trombosit saya turun drastis. Opname adalah pilihan saya satu-satunya.

Kalau kata teman saya diatas, kesempata yang diberikan Tuhan untuk beristirahat dengan benar. Sementara ibu cuma berkomentar: ‘ingat, kamu tidak selamanya muda. Badan kamu ada batas energinya. Harus dihargai. Nanti kalau badan kamu sudah tidak menghargai lagi, kamu sendiri yang akan kerepotan’. Hihihiiii…. Semua terjadi karena sebab akibat. Semoga Tuhan tidak menghukum saya berlebihan, karena menghiraukan badan sendiri. Karena saya kurang bersyukur :).

Advertisements

2 thoughts on “menyayangi untuk bersyukur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s